Senin, 27 Maret 2017

Pilkada DKI "The Special One"

Menarik sekali dunia perpolitikan di Indonesia akhir-akhir ini. Beragam rasa yang saya alami, antara miris, getir, khawatir, capek, lucu, dan lain sebagainya. Setelah era pilpres 2014 yang seru dan menegangkan, mengancam tali persaudaraan dan kebangsaan karena perbedaan pilihan, ternyata di 2016 dan 2017 ini panasnya kembali membara.



Link Gambar

Panas yang belum mereda akibat kekalahan calon yang didukung di 2014 kembali menggelora, kali ini ajang buat unjuk segala jurus, segala taktik, segala licik ada di Pilkada Langsung di DKI Jakarta yang mana menjadi satu-satunya pilkada dengan aturan yang berbeda dengan pilkada lainnya di Indonesia. Bumbu-bumbu sedap menguras emosi kerap saya jumpai ketika antar teman, sodara saling menghujat satu dengan lainnya hanya karena perbedaan pilihan. 

Saling menjauh, saling mengadu argumen dan tak jarang saling memutuskan pertemanan satu dengan yang lainnya saya alami selama mengikuti gelaran pilkada DKI yang saratt dengan tetek bengek kepentingan. Merasa diri paling benar, menghujat kelompok lain yang bersebrangan, boikot suatu produk, hujatan terhadap para alim ulama berseliweran bak lalat yang mengerubuti bangkai!

Pilkada di DKI seakan-akan menjadi satu-satunya Pilkada di Indonesia di antara ratusan pilkada di daerah lainnya. Tensi tingkat tingginya menyerupai pilpres, turun gurunnya dedengkot politik dan sensiifitas isu yang menggaung membuat Pilkada di DKI menjadi sangat-sangat spesial. Ada semacam anggapan bahwa merebut Indonesia harus dimulai dari Jakarta sebagai ibukota. Pun dengan sajian legit berupa triliunan APBD di DKI yang tidak dijumpai di daerah lain menjadikan (sekali lagi) pilkada di DKI sebagai "the special one".

Tulisan ini sangat-sangat terlambat untuk mengulas berbagai sisi di Pilkada DKI, karena saat saya hari ini menulis, pilkada sudah memasuki waktu kampanye (penajaman visi-misi) untuk mengahadapi putaran kedua. Ada dua calon nomor urut 2 sekaligus petahana pasangan Basuki Tjahaya Purnama & Djarot Saiful Hidajat yang akan ditantang oleh calon nomor urut 3 pasangan Anies Rasyid Baswedan & Sandiaga Salahudin Uno. Kedua pasangan ini melaju ke putaran dua setelah menjungkalkan pasangan nomor 1 Agus Hariamurti Yudhoyono & Silviana Murni yang mengantongi suara paling minim. 

Well, tulisan ini hanya sebagai pembuka bagi saya untuk mulai mengulas pertarungan di pilkada DKI dan puncaknya nanti di 2019 saat pemilihan presiden.

Mari bersama ikut berpartisipasi dalam pilkada, menjaga pilkada yang adil, transparan tanpa tendensi lainnya berupa serangan SARA sehingga ketika ada salah satu calon yang akan terpilih nanti benar-benar calon terbaik berdasarkan adu program, visi-misi dan kecakapan dalam memimpin. 


Jakarta, 27 Maret 2017

Saat kota ini di guyur hujan di sore hari.

Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Anda